Kalau Masih Cinta, Mending Balikan atau Tidak ya?

Alpas Fellas, seringkah kamu mendengar ada teman, artis, atau bahkan dirimu sendiri yang mengalami putus cinta? Tapi setelah sekian waktu ternyata mereka “balikan” lagi kepada pasangannya yang lama. Bagaimana sih penjelasannya kalau dilihat secara psikologis?

Hubungan berpacaran dalam Wisnuwardhani dan Mashoedi (2012) dinilai sebagai hubungan yang dibangun atas dasar cinta, kasih sayang, persahabatan, dukungan emosional, dan kesenangan. Meskipun hubungan berpacaran dibangun berdasarkan hal-hal yang menyenangkan, namun menurut Krans (2013) hubungan itu tentunya tidak luput dari adanya masalah. Dimulai dari merasa kesepian karena pasangan sibuk sampai tahap perselingkuhan. Tapi, tidak semua permasalahan berujung dengan perpisahan, Fellas. Bagi mereka yang telah membina relasi romantis sejak lama, bertahan menjadi pilihan dibanding menyerah dan berpisah.

Svoboda (2016) menjelaskan bahwa ada kalanya kita berada di posisi yang sudah terlalu lelah untuk mempertahankan hubungan sehingga memilih berpisah. Namun, di kemudian hari memilih kembali bersama karena merasa ada sesuatu yang hilang dari diri dan tidak bisa menemukan kembali pasangan yang sesuai dengan pilihan hati.

Sejatinya, manusia juga memiliki ketahanan yang berbeda-beda dalam mengatasi masalah. Dalam penelitian Thao Ha (Krans, 2013) dijelaskan bahwa semakin bertahan pasangan terhadap masalah yang dihadapi, semakin sehat hubungan mereka karena terdapat proses mencari penyelesaian masalah bersama-sama. Namun, dalam studi itu juga dijelaskan bahwa pencarian solusi bukan satu-satunya alasan untuk bertahan karena hadir argumentasi terkait perbedaan satu sama lain.

Penyebab memburuknya hubungan menurut Wisnuwardhani dan Mashoedi (2012) sangat beragam dan biasanya akan memberikan alasan bahwa mereka sudah tidak ada kecocokan satu sama lain. Hal ini terjadi karena tidak terpenuhinya apa yang diharapkan dari masing-masing pasangan dan berpisah menjadi pilihan. Ketika sudah memilih untuk berpisah, ada kejadian dimana kita akan kembali menjalin hubungan dengan orang yang sama karena adanya faktor “masih cinta”.

Kenapa sih, cinta menjadi dasar utama?

Lancer (2018) mengungkapkan bahwa cinta dapat memberikan motivasi dan meningkatkan perasaan percaya diri. Ketika pasangan memilih bersama kembali, mereka memiliki motivasi untuk kembali mendapatkan hal-hal positif seperti dukungan sosial dan jaminan kesetiaan yang kembali dijanjikan.

Jadi, balikan bukan hanya seperti membuka lembar yang sama. Momen ini bisa sebagai tanda kalau kalian sudah saling mengerti diri dan memahami sousi masalah apa yang harus digunakan ketika ada masalah diantara kalian. Jangan terus-terusan “putus-nyambung“, yaa!

 

Ditulis oleh: Lutfia Dyah Ayu

 

Sumber: Krans, B. (2013). Teen Break-ups Happen Even If Couples Handle Disagreements Well. Retrieved from https://www.healthline.com/health-news/mental-teen-relationships-end-even-if couples-handle-conflicts-well-041713#1

Lancer, D. (2018). The Psychology of Romantic Love. Retrieved from https://psychcentral.com/lib/the-psychology-of-romantic-love/

Svoboda, E. (2016). Domestic drama: On-Again, Off-Again. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/articles/200803/domestic-drama-again-again

Wisnuwardhani, D., & Mashoedi, S.F. (2012). Hubungan interpersonal. Jakarta: Salemba Humanika

Write a comment