Obsessive Compulsive Disorder, Saat Cemas dan Obsesi Berlebihan

Alpas Fellas apakah kalian pernah merasa “Hmm, tadi aku sudah kunci pintu atau belum ya?” Atau sering kali muncul pikiran-pikiran aneh dan terjadi secara tiba-tiba bahkan mengganggu kegiatan dan pikiran kalian?

Secara psikologis, keadaan seperti itu disebut dengan Obsessive Compulsive Disorder (OCD). OCD adalah gangguan dimana penderitanya sering kali merasakan kecemasan yang berlebih sebagai hasil dari pikiran obesesif mereka. Gejala obsesi yang muncul adalah akibat dari pikiran dan gambaran yang berlebihan serta tidak diinginkan dan mengkhawatirkan. Sedangkan kompulsif adalah perilaku yang terus menerus dilakukan untuk mengurangi kecemasan dan berhubungan dengan obsesi.

Sebagai contoh, “Bagaimana jika aku terinfeksi penyakit mematikan karena menyentuh benda yang tidak steril?” Contoh lain adalah, “Bagaimana jika aku tiba-tiba membunuh pasanganku?”

Ada juga pikiran seperti bagaimana jika dirinya terkontaminasi bakteri jahat sehingga ia harus mencuci pakaian dan tangannya berulang kali.

Orang-orang yang mengalami OCD dimulai dari rentang usia remaja akhir hingga dewasa awal meskipun ada kemungkinan dialami oleh anak-anak. Bagi orang tua yang menderita OCD biasanya mereka mampu menyembunyikan gejala OCD yang mereka miliki. 

Mereka yang mengalami OCD sulit mengendalikan pikirannya sendiri, mengalami stres, dan susah untuk mengabaikan pikiran negatif yang muncul. 

Lalu bagaimana, sih, penyebab seseorang bisa menderita OCD?

OCD biasanya muncul dan bisa bertahan lama jika tidak dalam penanganan yang tepat. Faktor penyebab penderita OCD diantaranya:

  • Stres karena menjadi pengangguran
  • Seseorang yang memiliki masalah dalam hubungan dengan orang lain
  • Masalah di sekolah atau lingkungan kerja
  • Sedangkan faktor yang paling kuat seseorang penderita OCD yaitu keturunan

Untuk beberapa penangan bagi penderita OCD, terapi psikologis merupakan cara yang efektif. Perawatan psikologis untuk penderita OCD menekankan perubahan dalam perilaku atau pikiran. Bila perlu, psikoterapi dapat dilakukan sendiri atau dikombinasikan dengan mengkonsumsi obat-obatan. Dua jenis utama terapi psikologis untuk OCD adalah terapi cognitive-behavior therapy (CBT) dan exposure and response prevention (ERP).

Apakah setelah membaca artikel ini kamu langsung merasa bahwa mengalami gejala diatas? Eits, daripada menebak sendiri, ada baiknya kamu pergi menemui tenaga ahli seperti psikolog atau psikiater agar mendapat informasi yang tepat.

 

Ditulis oleh: Fajar Rahman

Sumber:

Kelly, O. (2019, April 11) Obsessive Compulsive Disorder Overview. Retrieved from: https://www.verywellmind.com/what-is-obsessive-compulsive-disorder-ocd-2510675

Write a comment