Mengapa (Masyarakat) Kita Mudah Percaya Hoaks?

Memasuki masa kampanye Pemilu 2019, berbagai cara dilakukan oleh partai politik dan pendukung pasangan calon (paslon) untuk meraih suara rakyat. Bermacam cara untuk membuat citra positif pada paslon pun dilakukan, mulai dari membagikan berbagai informasi positif di media masa tentang paslon yang diusung, menyerang lawan melalui kampanye negatif, bahkan membuat berita bohong (hoaks) tentang kandidat tertentu. Di balik kecanggihan teknologi yang mempermudah kita untuk mengecek kebenaran suatu berita, sayangnya masih saja banyak masyarakat yang mudah mempercayai dan menyebarkan berita bohong. Lalu, sebenarnya apa, sih, yang menyebabkan seseorang mudah percaya hoaks?

Heflick (2017) mencoba menjelaskan fenomena ini melalui suatu konsep yang disebut sebagai naive realism. Naive realism adalah kecenderungan seseorang untuk mempercayai bahwa mereka telah mempersepsikan dunia sosial “sebagaimana adanya” -sebagai realitas objektif- bukan sebagai konstruksi subjektif dan interpretasi akan realitas (Baumeister & Vohs, 2007). Saat seorang cenderung merasa bahwa persepsinya adalah persepsi yang realistis dan tidak bias, maka ia akan cenderung merasa bahwa orang lain yang memiliki persepsi sama dengannya adalah orang yang rasional.

Sedangkan orang lain yang memiliki persepsi berbeda merupakan yang tidak mengetahui cukup informasi, irasional, atau bias. Sehingga, ketika seseorang mendengar sebuah berita yang sesuai dengan apa yang ia yakini, maka ada kecenderungan bahwa ia akan mempercayai berita tersebut. Misalnya, jika kita menganggap bahwa paslon tertentu adalah orang yang sangat baik dan pantas untuk dipilih, maka ketika ada berita bahwa paslon tersebut berbuat kebaikan, kita akan cenderung langsung mempercayai berita tersebut tanpa ada keinginan kuat untuk mengecek kebenarannya. Namun, jika ada berita negatif tentang paslon tersebut, kita akan cenderung ingin mengecek kebenaran berita tersebut karena informasinya tidak sesuai dengan apa yang kita yakini.

Fenomena mudahnya seseorang percaya pada hoaks dijelaskan melalui konsep naive realism, seseorang dapat mudah percaya pada hoaks karena merasa yakin bahwa ia dapat menilai suatu berita dengan lebih objektif daripada yang sebenarnya ia bisa. Ia merasa bahwa informasi yang sesuai dengan kepercayaan yang dimiliki -walaupun informasi itu palsu- adalah informasi yang lebih kredibel daripada informasi yang tidak sesuai dengan apa yang dipercayai. Jika mempercayai suatu berita, maka ia akan mengoverestimasi bahwa orang lain juga akan setuju dengan berita itu.

Jadi, meskipun kita meyakini bahwa diri ini adalah orang yang objektif dan rasional, mengecek kebenaran berita harus tetap dilakukan. Terutama berita yang cukup kontroversial dan berpotensi merugikan orang lain. Mari sama-sama lindungi diri dan orang lain dari hoaks. Kalau ada yang menyebarkan hoaks, cukup dibaca dan jangan disebar. Biarkan hoaks itu: Stop di Kamu! 🙂

 

 

Ditulis oleh: Syifa Zunuraina

Sumber:

Baumeister, R. F., & Vohs, K. D. (2007). Encyclopedia of social psychology. Los Angeles: SAGE Publications.

Heflick, N. A. (n.d.). Why We (Often) Believe Fake News. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-big-questions/201703/why-we-often-believe-fake-news

Write a comment