Mahasiswa Generasi Pertama Lebih Sering Merasakan Imposter Syndrome

Fellas, tahukah kalian tentang imposter syndrome? Sindrom imposter, atau bisa disebut sindrom penipu merupakan suatu pengalaman internal yang meyakini bahwa kamu tidak kompeten seperti yang dianggap oleh orang lain. Biasanya, hal ini terjadi dalam setting pendidikan. Misalnya siswa program kelas unggulan yang merasa seperti seorang penipu, tidak pantas berada di posisi tersebut, atau merasa berada di sana karena keberuntungan.

Mahasiswa generasi pertama beresiko lebih tinggi dalam merasakan imposter syndrome

Berdasarkan sebuah penelitian pada mahasiswa sains, teknologi, matematika, dan teknik, ternyata mahasiswa generasi pertama lebih mungkin mengalami sindrom imposter karena sifat kompetitif dalam pendidikan tersebut. 

Mahasiswa generasi pertama merupakan mahasiswa yang pertama kalinya pergi mengenyam bangku kuliah dalam keluarga mereka. Biasanya, mahasiswa tipe ini dibesarkan dalam nilai-nilai komunal dan mereka lebih bergantung pada orang lain daripada melihat mereka sebagai seorang lawan. Lalu ketika mereka dihadapkan dengan suasana kompetitif dalam pendidikan mereka, hal inilah yang bisa muncul.

Dalam lingkungan seperti itu, para mahasiswa lebih cenderung untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Ketika mahasiswa kemudian merasa bahwa temannya adalah musuh, bukan teman kuliah atau kawan, mereka melihat keberhasilan dan kegagalan mereka untuk menilai diri mereka sendiri: seringkali, mereka yakin akan gagal, dan kepercayaan dirinya mulai goyah.

Imposter Syndrome berdampak pada pencapaian akademik seseorang

Dengan meningkatnya perasaan sindrom penipu ini, persepsi mahasiswa tentang kompetisi kelas juga berdampak negatif pada pencapaian mereka, mengurangi keterlibatan, kehadiran, dan kinerja, serta bisa meningkatkan niat putus kuliah.

Hasil penelitian menyatakan jika mahasiswa generasi pertama yang merasa kelasnya kompetitif jauh lebih mungkin merasa seolah-olah mereka adalah penipu dan tidak mampu memenuhi tuntutan pendidikan mereka.

Dibandingkan dengan mereka yang memiliki anggota keluarga yang pernah kuliah, siswa generasi pertama lebih mungkin mengalami perasaan sindrom imposter ini setiap harinya, tapi hanya di kelas yang dianggap memiliki tingkat persaingan yang tinggi, menunjukkan bahwa suasana kelas benar-benar merupakan pendorong utama dalam terciptanya imposter syndrome ini.

Nah, kesimpulan dari penelitian ini adalah, dengan menciptakan lingkungan yang ramah dan mendukung bagi semua orang untuk mempelajari bidang matematika, sains, teknologi, dan teknik, apapun latar belakang mereka, merupakan kunci untuk bidang yang lebih beragam dan inklusif.

Memahami lebih lanjut tentang bagaimana siswa dari latar belakang yang berbeda menempuh bidang tersebut dan secara aktif mengembangkan strategi untuk melawan ketidaksetaraan merupakan langkah penting untuk memastikan hal ini tidak terjadi lagi. 

 

Ditulis oleh: Raihani Haurannisa

Diedit oleh: Qurrota Aini

Sumber: 

Reynolds, E. (2020, January 9). First-Generation University Students Are At Greater Risk Of Experiencing Imposter Syndrome. Retrieved from: https://digest.bps.org.uk/2020/01/09/first-generation-university-students-are-at-greater-risk-of-experiencing-imposter-syndrome/ 

Cuncic, A. (2020, May 1). What Is Imposter Syndrome? Retrieved from: https://www.verywellmind.com/imposter-syndrome-and-social-anxiety-disorder-4156469

Write a comment