Bebas Berpendapat, Termasuk Free Speech atau Hate Speech?

Kebebasan menyampaikan pendapat merupakan salah satu bentuk dari kebebasan berekspresi yang termasuk dalam Hak Asasi Manusia (HAM). Pada era teknologi saat ini, setiap orang menjadi semakin mudah untuk menyampaikan pendapatnya secara luas, terutama melalui media sosial. Siapapun dapat menyebarkan pendapatnya melalui kecanggihan media sosial ke segala penjuru dunia kapanpun dan dimanapun. Namun, di sisi lain, kebebasan ini tidak jarang disalahgunakan untuk menyudutkan pihak tertentu atau bahkan menyebarkan kebencian terhadap sosok tertentu. Nah, kalau sudah begini, apakah masih bisa disebut sebagai free speech atau kebebasan berpendapat yang dilindungi haknya dalam undang-undang?

Pertama-tama, kita perlu tahu dulu nih Fellas apa itu free speech. Free speech adalah kebebasan seseorang untuk mengutarakan pendapat dan gagasan mereka tanpa takut akan pembalasan, penyensoran, atau sanksi hukum. Nah, kebebasan ini sebetulnya sangat boleh dilakukan dan dilindungi hukum. Lalu, sampai mana sih sebuah pendapat sudah bisa dikatakan masuk dalam hate speech atau ujaran kebencian? Sebuah pendapat sudah menjadi ujaran kebencian ketika pendapat tersebut memiliki tujuan untuk menghasut, menyebarkan kebencian, dan menimbulkan konflik sosial. Batas kebebasan berpendapat dijelaskan dalam Deklarasi Universal HAM PBB . Dalam deklarasi tersebut, disebutkan bahwa hak dan kebebasan setiap orang tidak boleh melanggar hak dan kebebasan orang lain. Artinya, dalam berpendapat kita harus tetap menjamin dan menghormati hak dan kebebasan orang lain serta tidak melanggar aspek moral, ketertiban dan kesejahteraan umum.

Jadi, begitulah Fellas. Dalam menggunakan hak untuk mengemukakan pendapat, kita harus tetap memperhatikan batasan-batasan yang berlaku. Jangan sampai perkataan kita disalahgunakan untuk menyudutkan atau bahkan sampai menyebabkan konflik sosial. Walaupun kita berada di negara demokratis yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, kita tetap perlu menghargai hak dan kebebasan orang lain. Selain untuk melindungi hak dan kebebasan orang lain, patuh terhadap batasan dalam berpendapat juga perlu dilakukan untuk melindungi diri kita. Jika melanggar batasan-batasannya, ada hukum yang siap menjerat. Maka dari itu, yuk gunakan teknologi dan hak berpendapat kita secara bijak 🙂

 

Ditulis oleh: Syifa Zunuraina

Sumber: Meyer, E. J. (2019, Dec 05). Free speech vs. hate speech. What’s the difference and what can schools do? Retrieved from: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/gender-and-schooling/201612/free-speech-vs-hate-speech

Write a comment